
(SeaPRwire) – By: Marcus Sinclair
Kawasan barat daya Kolombia adalah medan perang brutal. Grup bersenjata ilegal berlomba menguasai lahan kokain dan jalur narkoba. Bom bus yang menewaskan warga sipil adalah gejala kekacauan yang lebih dalam.
Serangan bom terjadi pada 26 April di Jalan Raya Pan-Amerika, wilayah Cauca. Ledakan itu menewaskan 15 wanita dan 5 pria, total 20 warga sipil. Laporan awal mengatakan 36 orang terluka, termasuk anak-anak. Militer Kolombia memperbarui data: 45 warga sipil yang terluka. Pada hari Rabu, militer mengumumkan berhasil menetralkan 5 anggota grup “Estructura Jaime Martínez”. Mereka adalah fraksi dissiden FARC yang sudah bubar, terkait dengan jaringan Iván Mordisco—buronan paling dicari di Kolombia. Video yang dibagikan menunjukkan tas jenazah di depan helikopter militer dan senjata yang disita. Jenderal Hugo López, komandan militer, menyebut serangan itu sebagai “aksi teroris”. Komisioner Tinggi HAM PBB mendesak otoritas untuk “menjamin keadilan bagi korban”. Selain meletakkan bom di Cajibío, grup ini juga mencuri kendaraan di Jalan Raya Pan-Amerika dan menggunakan drone berisi peledak secara sembarangan.
Tanpa upaya mengatasi akar masalah, kemenangan militer ini hanya sementara. Grup bersenjata akan berganti wajah untuk mempertahankan kendali atas sumber daya menguntungkan. Konflik di barat daya Kolombia akan terus berlanjut selama jalur narkoba dan lahan kokain masih menjadi sumber kekuasaan.
Author bio: Marcus Sinclair, Senior Fellow di think tank geopolitik dan keamanan Eropa, fokus pada analisis konflik regional di Amerika Latin.
