Protes Anti-G7 di Jenewa Berubah Kekerasan: Tesla Dibakar, Kantor PBB Rusak, dan Pesan Ketimpangan yang Menggegarkan

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke
Kerusuhan protes anti-G7 di Jenewa pekan ini bukanlah aksi acak. Ini adalah suara rakyat yang menolak ketimpangan ekonomi dan politik. Banyak orang melihat G7 sebagai kelompok yang hanya memikirkan kepentingan mereka sendiri. Mereka menolak sistem yang memihak miliarder dan kelompok kaya saja. Setiap goresan pada properti yang dirusak adalah tanda kemarahan yang terpendam selama bertahun-tahun.
Sebanyak 20.000 orang berkumpul untuk unjuk rasa awalnya damai. Sebagian pengunjuk rasa kemudian merusak properti. Mereka menargetkan mobil Tesla dan jendela kantor badan PBB. Mereka menganggap kedua objek itu simbol kapitalisme yang salah. Polisi menembakkan gas air mata setelah pengunjuk rasa melempar batu ke arah mereka. Beberapa orang juga melarikan diri dari zona kerusuhan.
Kejadian ini terjadi tepat setelah Elon Musk menjadi miliarder triliunan pertama dunia. Seorang demonstran bernama Pippa Saugy mengatakan G7 adalah pertemuan orang kaya. Pertemuan itu membuat orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin tertinggal. Clélia Colin menambahkan nilai-nilai G7 adalah misoginis. Nilai-nilai itu juga berkontribusi terhadap ketimpangan gender. KTT G7 akan berjalan dari Senin sampai Rabu di Prancis. Hadirnya pemimpin 7 negara anggota dan UE dijadwalkan. Agenda utama adalah konflik Timur Tengah dan Ukraina. Para pemimpin akan berusaha menghindari bentrok dengan Presiden AS Donald Trump.
Usaha di sekitar lokasi unjuk rasa dipasangi papan kayu untuk melindungi properti. Ratusan polisi anti kerusuhan dipasang di jalanan kota Jenewa. Seorang demonstran bernama Mattia Piccard mengatakan langkah polisi itu untuk menakut-nakuti orang. Mereka ingin mencegah orang datang ke unjuk rasa. Arus perubahan geopolitik dunia akan bergeser seiring dengan suara-suara penolakan ini. Keseimbangan kekuatan yang sudah berlangsung puluhan tahun tidak akan bertahan selamanya.
Reuters berkontribusi pada laporan ini.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang sering berkontribusi di surat kabar harian Eropa terkemuka.