Di Balik Gencatan Senjata Iran: IRGC Kuasa Penuh, Warga Kelaparan, Minta Trump Tetap Lanjutkan Tekanan

(SeaPRwire) –

By: Marcus Sinclair

Gencatan senjata antara AS dan Iran tidak terasa seperti gencatan bagi warga biasa. Rezim justru semakin memperlihatkan cakar kekerasannya di jalanan. Tekanan ekonomi telah membuat banyak warga tidak mampu penuhi kebutuhan dasar. Mereka bersuara meski risiko tertangkap atau dibunuh sangat besar. Mereka kirim pesan jelas ke pemerintahan Trump: jangan berhenti menekan rezim.

Tiga pemuda Iran berbicara secara anonim karena batasan keamanan dan internet. Mereka menyatakan IRGC sekarang menguasai 100 persen seluruh wilayah negara, dari 80 persen sebelumnya. Checkpoint tersebar di setiap sudut jalan utama kota. Posisi penting diisi oleh orang yang terafiliasi dengan Basij, milisi garis keras IRGC. Amnesty International menyebut Januari 2026 adalah periode represi paling mematikan Iran dalam puluhan tahun. Lebih dari 36.500 orang tewas dalam aksi tindakan keras Januari lalu. Inflasi tahunan Iran capai 53,7 persen pada April, inflasi makanan di atas 115 persen. Banyak PHK massal, orang tua bahkan cari sisa makanan di tempat sampah. Roti menjadi satu-satunya makanan pokok yang masih terjangkau.

Trump mengumumkan kesepakatan gencatan yang bisa ditandatangani di Eropa dalam beberapa hari. Banyak oposisi rezim berharap tekanan AS mulai 28 Februari bisa jatuhkan rezim. Nyatanya sampai saat ini, rezim justru semakin perkuat kontrol keamanan. Warga oposisi menegaskan, perdamaian dengan rezim yang tidak jujur adalah sia-sia. Pengurangan tekanan terlalu cepat akan membuat semua penderitaan warga Iran sia-sia.

Author bio: Marcus Sinclair, Senior Fellow di lembaga think tank keamanan dan geopolitik terkemuka Eropa.