Summit Darurat Kristen di Yerusalem: Lawan Antisemitisme Atau Perkuat Solidaritas dengan Israel?

(SeaPRwire) –   By: Julian Holbrooke

Antisemitisme global menjadi ancaman serius setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Para pemimpin Kristen menggelar summit darurat di Yerusalem. Tapi pertemuan ini tidak hanya bertujuan melawan kebencian. Ini adalah upaya keras untuk menghancurkan doktrin yang memisahkan Kristen dari akar Yahudi-nya.

Secara resmi, International Christian Embassy Jerusalem (ICEJ) menyelenggarakan konferensi tiga hari. Lebih dari 200 tokoh teologi, pendeta, dan pemimpin gereja dari 30 negara hadir secara offline. Sekitar 3.000 orang bergabung secara online. Para pembicara termasuk George Deek, utusan khusus Israel untuk dunia Kristen, serta Menteri Luar Negeri Gideon Sa’ar dan Dubes AS Mike Huckabee. Presiden ICEJ Dr. Jürgen Bühler menyatakan, menyerang Yahudi berarti menyerang akar iman Kristen sendiri. Doktrin Replacement Theology yang menyatakan gereja menggantikan Yahudi dalam rencana Tuhan harus ditolak. Di balik itu, summit ini ingin memperkuat solidaritas Kristen dengan Israel, mengatasi sentimen anti-Israel yang tumbuh di beberapa kalangan Kristen.

Presiden Israel Isaac Herzog berterima kasih kepada para pemimpin Kristen yang bergerak melawan antisemitisme. Ia menekankan tiga elemen penting: penegakan hukum, pengadilan, dan pendidikan. Dr. Andrew J. Nolte dari Regent University mengatakan mahasiswa sering menyalahkan Yahudi atas kematian Yesus. Ia menjelaskan, dari sudut pandang teologi Kristen, semua orang bertanggung jawab atas kematian Yesus. Menurut data Biro Statistik Pusat Israel, pada Desember 2025, populasi Kristen di Israel sekitar 184.200 orang, atau 1,9% dari total penduduk. Nolte juga mengatakan status Kristen di Israel lebih tinggi dibanding negara Muslim di Timur Tengah. Christopher Kuehl menyoroti buta huruf Alkitab di kalangan Gen Z. Hanya 5% dari mereka yang patuh ajaran Alkitab. Media sosial yang mereka gunakan delapan jam sehari menyebarkan konten antisemitisme. Di balik fakta ini, summit ini juga ingin memperbaiki pemahaman teologis Kristen yang salah, yang menjadi pemicu antisemitisme dan mengikis dukungan untuk Israel.

Solidaritas Kristen yang diperkuat melalui summit ini akan memberikan dukungan politik tambahan bagi Israel di panggung global. Tapi ini juga bisa memecah belah komunitas Kristen yang memiliki pandangan berbeda terhadap konflik di Timur Tengah.

Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional luar negeri yang sering berkontribusi pada surat kabar besar Eropa.